Nov
15

made-september-1-2010
Nikmati artikel-artikel yang tersaji di sini, mudah-mudahan bermanfaat, menginspirasi, dan dapat menambah pengetahuan anda.



Terima kasih.

Oct
01

Oleh : Kusumawati Ni Made


Saat Sabtu malam, 4 September 2010 lalu aku duduk terpaku di depan televisi. Tanpa sengaja aku menyaksikan tayangan di Metrotv tentang peristiwa September 1965 di Bali. Saat itu di beberapa daerah di Bali terjadi pembantaian besar-besaran. Banyak yang terbunuh! Dan yang membuat miris mereka terbunuh oleh orang-orang yang selama ini sudah mereka kenal dengan baik, oleh teman sendiri atau tetanggga, dan dengan alasan yang gak jelas.

Sedih menyaksikan tayangan tentang kampung halaman ayahku itu. Terlebih-lebih bila mengingat ada anggota keluargaku yang juga jadi korban saat kejadian itu. Kakak ayahku ikut jadi korban pada peristiwa mengerikan itu.

Kata ayahku, Pamanku itu orang yang sangat sederhana yang hidup di desa tempat asal keluarga kami, yaitu Tabanan, Bali. Profesinya adalah guru. Entah mengapa pada kejadian di tahun 1965 itu, beliau ikut terbunuh. Padahal sebagai seseorang yang memiliki pemikiran sederhana dan berteman dengan banyak orang-orang di kampung, mustahil rasanya kalau Pamanku itu punya pemikiran yang aneh-aneh. Boleh dibilang apalah artinya urusan politik dan kekuasan baginya?

Namun yang aku gak habis pikir, mengapa beliau ikut jadi korban pembantaian? Ingin rasanya aku marah setiap kali mendengar cerita ini? Mengapa rakyat jelata yang gak ngerti apa-apa ikut jadi korban?

Ayahku pernah cerita bahwa pembantaian dilakukan di tepi sungai. Saat kejadian itu, Pamanku diseret hingga ke tepi sungai tak jauh dari rumah keluarga kami, dan dibantai di sana!

Seketika itu air sungai berubah menjadi merah darah. Sebab demikian banyak korban, bak menyembelih hewan layaknya! Ohh, alangkah ngerinya aku membayangkan kejadian itu! Bayangkan air sungai, yang kalau setiap liburan ke kampung halaman ayahku, aku bermain-main dan berenang-renang di situ. Siapa nyana kalau dulunya pernah jadi tempat pembantaian. Dan yang menyedihkan lagi, salah satu keluargaku ikut jadi korbannya….

Kini, sudah 45 tahun waktu berlalu. Seolah seperti tiada berbekas lagi kepedihan. Kehidupan pun berjalan terus. Istri Pamanku bersama anak tertuanya tetap menjalani kesehariannya di kampung sambil menjaga rumah keluarga dan sawah ladang kami. Sementara dua orang anaknya lagi tinggal di kota. Setiap aku berkunjung ke rumah keluarga di kampung, mereka nampak biasa-biasa saja seolah telah melupakan tragedi beberapa tahun silam.

Namun bagiku… cerita itu akan tetap aku ingat sampai kapanpun! Walau aku tak mengenal sosok Pamanku, lantaran dia pergi saat aku belum terlahir ke dunia ini. Namun cerita ini akan tetap kukenang….

Walau keadilan tak mungkin rasanya kudapatkan di dunia ini! Mungkin di akhirat nanti….

Jul
12


Oleh : Kusumawati


Sebetulnya saya gak terlalu suka nonton bola. Lagipula itu kan tontonan pria. Jadi wajar kalau saya memang gak suka. Akan tetapi, gegap gempita piala dunia 2010 rupanya juga menstimulus mereka-mereka yang gak hobi nonton bola, tak terkecuali para wanita untuk tiba-tiba menyukainya dan bahkan tidak jarang yang menjadi pengamat dadakan.

Saya pun demikian, suatu saat saya menyaksikan salah satu pertandingan. Tapi sayang, saya lupa kesebelasan negara mana lawan mana. Karena saya hanya nonton beberapa saat saja.
Tapi hal itu tak penting, karena yang menjadi perhatian saya bukan negara mana yang bertanding, melainkan justru hakekat bermain bola itu sendiri.

Saya perhatikan dengan seksama, ternyata dalam setiap pertandingan bola ada 2 filosofi dasar yang dijadikan landasan untuk menang, yaitu kerjasama (teamwork) dan semangat sportivitas.

Filosofi pertama, yaitu kerjasama (teamwork) memperlihatkan bahwa tidak ada satu gol pun yang diciptakan hanya oleh karena kemahiran atau kehebatan seorang pemain semata. Setiap gol yang tercipta memang dibuat oleh seorang pemain yang boleh dibilang sebagai bintang lapangan. Namun, mungkinkah ia menciptakan gol itu seorang diri, kalau tidak didukung oleh kehebatan rekan-rekannya yang lain? Atau dengan kata lain, kalau tidak ada umpan dari rekan-rekannya sesama pemain satu tim, mungkinkah ia menciptakan gol? Tentu jawabnya tidak.

Di sinilah arti sesungguhnya dari sebuah teamwork. Ternyata sepakbola telah mengajarkan kepada kita, betapa kerjasama itu penting dalam meraih kesuksesan. Di dalam kita bekerja atau berbisnis pun demikian. Tidak ada seorang pun yang berambisi menjadi “superman”, yang mampu melakukan segala sesuatu seorang diri dan berharap meraih katakanlah nilai penjualan yang tinggi.

Hal itu mustahil terjadi, jika ia tidak didukung oleh sebuah tim yang solid, yang bersama-sama bekerja demi mencapai suatu target yang telah ditentukan. Melalui kerjasama tim, hal-hal yang semula tidak mungkin menjadi mungkin. Sebab, perpaduan berbagai macam pemikiran dan keahlian yang berbeda-beda dapat menghasilkan sesuatu yang tidak terduga, yang tidak mungkin dicapai oleh masing-masing individu apabila mereka berdiri sendiri. Demikian pula jika terjadi badai atau hantaman dari pihak luar, kesolidan sebuah tim akan mampu menangkal semua itu, dan membuat posisi mereka semakin kuat di ranah bisnis yang digeluti.

Filosofi kedua, yaitu semangat sporitivitas. Ini menyangkut sikap mental yang dimiliki oleh pemain di lapangan. Misalkan pada saat tim kesebelasan kebobolan gol. Saya menyaksikan tidak ada di antara mereka yang saling menyalahkan apalagi menyalahkan keeper semata-mata. Oleh karena, tanggung jawab menjaga pertahanan gawang berada di pundak seluruh anggota tim kesebelasan, dan bukan hanya sang keeper.

Kalau situasi ini diimplementasikan dalam lingkungan kerja, dapat diibaratkan bahwa setiap anggota tim harus bahu-membahu berupaya menggapai kesuksesan bersama. Bila satu saja anggota tim yang berbuat kesalahan, maka akan berefek ke performa seluruh tim. Di lain pihak, masing-masing anggota tim tidak bisa saling menyalahkan, oleh karena kinerja tim tidak diukur dari kekurangan dari salah satu anggota tim, dan demikian pula sebaliknya.

Demikianlah sportivitas dan kesolidan tim dibangun, sehingga seperti layaknya tim kesebelasan sepak bola, hal ini akan menarik simpati para pendukungnya yang pada akhirnya membuat image tim menjadi bagus. Dan bukan hanya itu, dalam berbagai pertandingan pun tim mampu menghadapi lawan yang kuat sekalipun, dan… meraih kemenangan!

Begitulah kira-kira sepak bola mengajarkan kita bagaimana meraih sukses melalui kerjasama tim dan semangat sportivitas. Hendaknya kita mencoba mengambil hikmah dan tidak hanya sekedar terjebak dalam Euforia sesaat.


Jun
30

china-love-story-1

Satu kisah cinta baru-baru ini keluar dari Cina dan langsung menyentuh seisi dunia. Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita yang lebih tua, yang melarikan diri untuk hidup bersama dan saling mengasihi dalam kedamaian selama setengah abad.

Laki-laki Cina berusia 70 tahun yang telah memahat 6000 anak tangga dengan tangannya (hand carved) untuk isterinya yang berusia 80 tahun itu meninggal dunia di dalam goa yang selama 50 tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya.

50 tahun yang lalu, Liu Guojiang, pemuda 19 tahun, jatuh cinta pada seorang janda 29 tahun bernama Xu Chaoqin….

Seperti pada kisah Romeo dan Juliet karangan Shakespeare, teman-teman dan kerabat mereka mencela hubungan mereka karena perbedaan usia di antara mereka dan kenyataan bahwa Xu sudah punya beberapa anak….

Pada waktu itu tidak bisa diterima dan dianggap tidak bermoral bila seorang pemuda mencintai wanita yang lebih tua. Maka untuk menghindari gosip murahan dan celaan dari lingkungannya, pasangan ini memutuskan untuk melarikan diri dan tinggal di sebuah goa di Desa Jiangjin, di sebelah selatan Chong Qing.

Pada mulanya kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak punya apa-apa, tidak ada listrik atau pun makanan. Mereka harus makan rumput-rumputan dan akar-akaran yang mereka temukan di gunung itu. Dan Liu membuat sebuah lampu minyak tanah untuk menerangi hidup mereka.
Xu selalu merasa bahwa ia telah mengikat Liu dan ia berulang-kali bertanya, “Apakah kau menyesal?”
Liu selalu menjawab, “Selama kita rajin, kehidupan ini akan menjadi lebih baik.”

Setelah 2 tahun mereka tinggal di gunung itu, Liu mulai memahat anak-anak tangga agar istrinya dapat turun gunung dengan mudah. Dan ini berlangsung terus selama 50 tahun.

Setengah abad kemudian, di tahun 2001, sekelompok pengembara (adventurers) melakukan eksplorasi ke hutan itu. Mereka terheran-heran menemukan pasangan usia lanjut itu dan juga 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu.

Liu Ming Sheng, satu dari 7 orang anak mereka mengatakan, “Orang tuaku sangat saling mengasihi, mereka hidup menyendiri selama lebih dari 50 tahun dan tak pernah berpisah sehari pun. Selama itu ayah telah memahat 6000 anak tangga untuk menyukakan hati ibuku, walau pun ia tidak terlalu sering turun gunung.”

Pasangan ini hidup dalam damai selama lebih dari 50 tahun. Suatu hari Liu yang sudah berusia 72 tahun pingsan ketika pulang dari ladang. Xu duduk dan berdoa bersama suaminya sampai Liu akhirnya meninggal dalam pelukannya. Karena sangat mencintai sang istri, genggaman Liu sangat sukar dilepaskan dari tangan Xu, istrinya.

“Kau telah berjanji akan memeliharakanku dan akan terus bersamaku sampai aku meninggal, sekarang kau telah mendahuluiku, bagaimana aku akan dapat hidup tanpamu?”
Selama beberapa hari Xu terus-menerus mengulangi kalimat ini sambil meraba peti jenasah suaminya dan dengan air mata yang membasahi pipinya.

Pada tahun 2006 kisah ini menjadi salah satu dari 10 kisah cinta yang terkenal di Cina, yang dikumpulkan oleh majalah Chinese Women Weekly. Pemerintah telah memutuskan untuk melestarikan “anak tangga cinta” itu, dan tempat kediaman mereka telah dijadikan musium agar kisah cinta ini dapat terus hidup.

china-love-story-4

china-love-story-5


Apr
28

Berikut sebuah tulisan inspiratif yang didapat dari FB seorang teman.
Semoga bermanfaat….

allah-pic

Suatu hari seorang guru bertanya kepada murid-muridnya.

Pertanyaan ke 1 :
“Apa yg paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Muridnya ada yang menjawab, “Orang tua”, “Guru”, “Teman”, “Kerabatnya”.
”Yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Sebab kematian adalah pasti adanya….”

Pertanyaan ke 2 :
“Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”
Muridnya ada yang menjawab, “Negeri Cina”, “Bulan”, “Matahari”.
“Yg paling jauh dari diri kita adalah masa lalu…. Siapa pun kita… bagaimana pun kita… dan betapa kayanya kita…. tetap tidak bisa kembali ke masa lalu…. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.”

Pertanyaan ke 3 :
“Apa yang paling besar di dunia ini?”
Muridnya ada yg menjawab, “Gunung”, “Bumi”, “Matahari”.
“Yang paling besar dari segala yang ada di dunia ini adalah hawa nafsu…. Banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsu dan tidak mampu mengendalikannya…. Tidak jarang segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi. Karena itu, kita harus berhati-hati dengan hawa nafsu.”

Pertanyaan ke 4 :
“Apa yang paling berat di dunia ini?”
Di antara muridnya ada yang menjawab, “Baja”, “Besi”, “Gajah”.
“Yang paling berat adalah memegang amanah….”

Pertanyaan ke 5 :
“Apa yang paling ringan di dunia ini?”
“Ada yang menjawab, “Kapas”, “Angin”, “Debu”, “Dedaunan”.
“Yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan ibadah.”

Lalu pertanyaan ke 6 :
“Apakah yang paling tajam di dunia ini?”
Muridnya menjawab dengan serentak, “Pedang!!”
“Yang paling tajam di dunia ini adalah lidah manusia. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati… melukai perasaan saudaranya sendiri…”


Apr
27

Bagi mereka yang dari semenjak kecil udah tinggal di Jakarta. Atau mereka yang sekarang masih tinggal di wilayah Jakarta tercinta ini, ketahui asal-usul NAMA tempat anda tinggal.
Lumayan buat tambah wawasan. Siapa tahu jadi makin cinta sama Jakarta, kota yang makin padat, semrawut dan bikin orang semaput….

1. Glodok

Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali Ciliwung. Orang Tionghoa dan keturunan Tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena orang Tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.

2. Kwitang

Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si kwi tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang.

3. Senayan

Dulu daerah Senayan adalah milik seseorang yang bernama Wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut orang-orang dengan sebutan Wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik wangsanaya. Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan.

4. Menteng

Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan. Karena banyak pohon buah menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda, maka daerah itu disebut Menteng.

5. Karet Tengsin

Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas Kuningan ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal dengan nama Karet Tengsin.

6. Kebayoran

Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya “tempat penimbunan kayu bayur”. Kayu bayur yang sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatanya serta tahan terhadap rayap.

7. Lebak Bulus

Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil dari kata “lebak” yang artinya lembah dan “bulus” yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak rata seperti lembah, dan di kali Grogol dan kali Pesanggrahan - dua kali yang mengalir di daerah tersebut - memang terdapat banyak sekali kura-kura alias bulus.

8. Kebagusan

Nama Kebagusan, daerah yang menjadi tempat hunian mantan presiden Megawati, berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak Lenang. Konon, kecantikan gadis keturunan kesultanan Banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Agar tidak mengecewakan hati pemuda itu, ia akhirnya memilih bunuh diri. Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal dengan nama ibu Bagus.

9. Ragunan

Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang disandang tuan tanah pertama kawasan tersebut bernama Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa.

10. Pasar Rumput

Dulu, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa mangkal di lokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman elit Menteng. Saat itu, sado adalah sarana transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian besar penduduk menteng memelihara kuda.

11. Paal Meriam

Asal usul nama daerah yang berada di perempatan Matraman dengan Jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam Inggris yang akan menyerang Batavia, mengambil daerah itu untuk meletakkan meriam yang sudah siap ditembakkan. Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakat sekitar, dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam disiapkan).

12. Cawang

Dulu, ketika Belanda berkuasa, ada seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Letnan ini bersama anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari Jatinegara. Lama-kelamaan sebutan Ende Awang berubah menjadi Cawang.

13. Pondok Gede

Sekitar Tahun 1775, lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut dengan Onderneming. Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman. Karena merupakan satu-satunya bangunan besar yang ada di lokasi tersebut, bangunan itu sangat terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya “Pondok Gede”.

14. Condet Batu Ampar dan Balekambang

Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memiliki beberapa orang anak. Salah satu anaknya, perempuan, diberi nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makassar pun tertarik melamarnya. Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan di atas empang, dekat kali Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi, dan menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Ciliwung. Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran Tenggara, dibuat jalan yang diampari (dilapisi) batu.

Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut Batu Ampar, dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air itu disebut Balekambang.

15. Buncit

Dulunya di jalan Buncit Raya (sekarang) ada pedagang kelontong China berperut gendut (Buncit) yang terkenal.

16. Bangka

Dulunya di sana banyak ditemukan mayat (bangke/bangkai) orang yg dibuang di kali Krukut.

17. Cilandak

Konon di sana pernah ditemukan seekor landak raksasa.

18. Tegal Parang

Di sana banyak ditemukan alang-alang tinggi (tegalan) yang dipotong dengan parang (golok).

19. Blok A/M/S

Dulunya di sekitar situ tempat pembukaan perumahan baru yang ditandai dengan blok, mulai A-S. Sayang yang tersisa tinggal 3 blok doang.

20. Kampung Ambon

Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung Ambon sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon, lalu merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan dari Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak itulah pemukiman tersebut dinamakan Kampung Ambon.